Sederhana itu relatif, kata orang. Masing-masing seolah mempunyai barometer tersendiri, sesuai pendapatan, strata sosial, dan dimana orang tersebut berada.
Di Indonesia bagian rakyat kebanyakan, menikahkan anak dengan undangan ‘hanya keluarga besar’, tamu 100 ini mungkin sederhana. Tapi bagi Indonesia bagian kelas menengah dan atas, pernikahan sederhana itu ‘hanya’ 500an tamu.
Sementara di India, yang menjadi ukuran adalah berapa hari acara pernikahan tersebut berlangsung, dengan berbagai pernik adat istiadat yang khas. Ada hari khusus untuk melukis tangan (heena), hari akad nikah, hari waleema (walimah) pihak laki-laki, dan dinner dari pihak perempuan. Sederhana itu mungkin tiga hari, sementara mewah itu kalau 7 hari 7 malam.
Namun, kalau kesederhanaan diserahkan kepada relatifitas, bagaimana mungkin kita bisa atau belajar menahan diri. Bukankah esensi kesederhanaan adalah menahan diri, mengambil jalan tengah, moderat, sedeng-sedeng saja – meskipun ada kemampuan lebih dari itu?
Mumpung lagi ‘musim’ pernikahan, di bulan Muharram ini, mari kita merenung sejenak. Jalur kesederhanaan apa yang akan kita ikuti.
Menjalani hidup yang sederhana, atau penuh kesederhanaan seharusnya simple, mudah. Dengan mengukur ke luar, melihat yang kondisi ekonomi di bawah kita. Apakah patut, pantas, dan tidak berlebihan dibandingkam kondisi orang kebanyakan.
Ibarat statistik, sederhana itu median, dengan distribusi normal. Dan mungkin agak skewed ke kiri – mendekati titk rendah.
Berlebihan itu adalah skewed ke kanan. Contohnya mungkin gaya hidup atau gaya perkawinan kaum selebritis, influencer, anak pejabat, atau ‘pengusaha’ yang bisa jadi lifestyle-nya dimodali utang.
Bismillah, awal tahun ini mari berazam untuk lebih menahan diri.



