Jakarta, 1 Juli 2026 – Sakinah Finance menghadiri Menara Syariah & Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Symposium 2026 yang mengangkat tema “The Proactive Compass: Re-engineering Financial AI Through the Lens of Maqasid Al-Shariah.” Forum internasional ini menjadi ruang kolaborasi akademisi, praktisi, dan pelaku industri untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam ekosistem keuangan syariah.
Dalam sambutannya, Firdaus Djaelani selaku Komisaris Utama Menara Syariah menegaskan bahwa dunia keuangan sedang mengalami perubahan besar akibat perkembangan AI.
Menurutnya, transformasi tersebut harus dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu AI, sustainability, dan maqashid syariah, sehingga inovasi yang lahir tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengelolaan green sukuk, zakat, wakaf, serta meningkatkan mitigasi risiko dan pencegahan fraud, tanpa mengabaikan nilai-nilai etika Islam.
Dalam sesi keynote, para pembicara menyoroti bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat sering kali melahirkan inovasi yang belum tentu sejalan dengan prinsip syariah.
Oleh karena itu, pendekatan maqashid syariah dinilai menjadi fondasi penting dalam memastikan perkembangan AI tetap berorientasi pada perlindungan agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Sesi panel menghadirkan Kamarusalam Yusuf dari UNISSA, Luqyan Tamanni selaku Head of BSI Institute, serta David Cornelis Mokalu, CEO PT BTC, dengan moderator Yaser Taufik Syamlan dari Universitas Tazkia.
Kamarusalam Yusuf menjelaskan bahwa pengembangan AI tidak cukup hanya memastikan suatu produk halal atau haram dari sisi fikih. AI juga harus dinilai berdasarkan tujuan syariat (maqashid syariah) agar tidak menimbulkan dampak negatif jangka panjang seperti ketimpangan maupun krisis ekonomi.
Ia juga menyoroti tantangan black box syndrome, yakni proses pengambilan keputusan AI yang sulit dipahami sehingga perlu melibatkan kolaborasi antara pakar teknologi dan ulama.

“AI memang akan mengubah dunia kerja, tetapi juga membuka peluang profesi baru. Sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan AI akan menjadi pihak yang bertahan dan berkembang” ujar Luqyan yang juga merupakan Pendiri Sakinah Finance.
Ia juga memaparkan berbagai potensi AI di industri keuangan syariah, mulai dari memperkuat shariah compliance, meningkatkan literasi dan onboarding nasabah, memperbaiki credit scoring, memperluas agent banking, hingga memungkinkan transaksi real-time yang lebih inklusif. Namun Luqyan juga mengkhawatirkan kalau AI tidak memenuhi Hifzul Aql (Perlindungan Akal) jika tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Dari sisi industri aset digital, David Cornelis Mokalu menjelaskan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai teknologi yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Pengembangan AI harus tetap berpusat pada kebutuhan masyarakat sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Bagi Sakinah Finance, diskusi ini memperkuat keyakinan bahwa AI bukan sekadar alat untuk meningkatkan efisiensi layanan keuangan, melainkan harus menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan syariah.
Pemanfaatan AI di bidang literasi keuangan, perencanaan keuangan keluarga, zakat, wakaf, hingga waris perlu dikembangkan secara bertanggung jawab agar mampu menghadirkan solusi yang akurat, transparan, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Melalui partisipasi dalam forum ini, Sakinah Finance berharap dapat terus membangun kolaborasi dengan akademisi, regulator, dan industri dalam mengembangkan inovasi keuangan syariah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap menjaga prinsip maqashid syariah sebagai kompas utama transformasi digital.
Sumber:
Humas Sakinah Finance


