DISTRIK MAKATI, FILIPINA — 19 September 2026 —National Commission on Muslim Filipinos (NCMF), melalui Bureau of Muslim Economic Affairs (BMEA), secara resmi membuka Hari ke-1 Philippine Halal Industry Summit 2026 (“Halal Horizons Philippines”) di New World Makati Hotel. Mengusung tema “Advancing the Philippine Halal Ecosystem: Integration, Innovation, and Global Competitiveness,” konferensi tingkat tinggi ini mempertemukan delegasi internasional, pemimpin pemerintah, dan spesialis industri untuk mendorong kolaborasi regional dan pembangunan ekonomi yang inklusif di Filipina.
Menyoroti dukungan negara yang kuat, Special Assistant to the President Antonio Ernesto F. Lagdameo, Jr. menekankan nilai strategis dari pertemuan ini: “Inisiatif ini menyoroti peran vital industri Halal Filipina dalam menciptakan peluang ekonomi, memberdayakan UMKM dan masyarakat, menghasilkan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat kehadiran kita di pasar global”. Saat membuka acara tersebut, Sekretaris NCMF Sabuddin N. Abdurahim mengulangi seruan aksi bersama ini: “Tujuan kami bukan sekadar membahas potensi industri halal, tetapi untuk memperkuat kemitraan dan tindakan yang diperlukan untuk mengubah potensi tersebut menjadi peluang nyata bagi bisnis, koperasi, produsen, dan masyarakat Filipina”.
Congressman Yusop T. Alano, District Representative of the Basilan Lone District, menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan KTT tersebut. Ia menekankan bahwa Filipina perlu mengembangkan sektor halal dalam tiga bidang utama: dari sertifikasi halal menuju penguatan standar dan sistem; dari konsumsi halal menuju peningkatan produksi halal dalam negeri; dan pada akhirnya, dari sekadar industri halal menuju pembangunan ekonomi halal yang lebih komprehensif.
Ia juga menekankan pentingnya pembagian peran yang lebih jelas, koordinasi yang lebih kuat, serta kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pemerintah, pelaku industri, lembaga sertifikasi, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem halal Filipina yang lebih terintegrasi, kompetitif, dan berkelanjutan.
Arah institusional acara ini selaras dengan Direktur BMEA Saleha Pangarungan Sacar, yang visi strategisnya berfokus untuk memastikan bahwa warga Muslim Filipina “bukan hanya sekadar penerima manfaat dari pembangunan, tetapi juga peserta aktif dan kontributor dalam pembangunan bangsa”. Standar operasional dan kebijakan lebih lanjut dieksplorasi oleh para pembicara utama sepanjang pagi. Chairman/President Sertu International, Nor Azwa Omar Jamli dan Associate Advisor Kazai Innovative Ideas Solution Mohamad Nordin Zainuddin, mengangkat isu mengenai potensi kontaminasi di dalam produk sehari-hari yang digunakan, dengan memperkenalkan Sertu sebagai protokol pembersihan (penyucian) untuk industri perhotelan. Komisaris NCMF Mehol K. Sadain membahas tantangan-tantangan dalam industri halal Filipina, berbicara secara khusus mengenai standar pemerintah untuk industri halal. Menguraikan ekspansi perdagangan, Asisten Direktur Department of Trade and Industry Maria Cecilia Angela D. Labadan menjelaskan strategi Filipina untuk diakui dan bersaing secara internasional.
Sesi sore berfokus pada pemberdayaan keuangan, sains, dan kemajuan teknologi. Chief Executive Officer Al-Amanah Islamic Investment Bank Amenah F. Pangandaman menyatakan bahwa melalui program-program yang dibuat, banyak peluang terbuka dan berjalan dalam mendukung industri halal, termasuk di tingkat UKM. Ia menegaskan dengan lantang: “Sebagai warga Filipina, kita tidak boleh tertinggal karena besarnya potensi Halal dalam kontribusi ekonomi”. Memperluas pembahasan tentang pengembangan dan teknologi, Undersecretary Department of Science and Technology Leah J. Buendia berbicara tentang membangun ekosistem halal yang maju, sementara Minister of Science and Technology Bangsamoro Baileng S. Mantawil berfokus kuat pada usaha mikro dan kecil (UMK).

Dalam sesi investasi, Murniati Mukhlisin, Guru Besar Universitas Tazkia sekaligus perwakilan Sakinah Finance Indonesia, membahas tren pasar halal global serta berbagai peluang investasi yang semakin berkembang. Ekonomi halal dan ekonomi syariah global memasuki fase ekspansi baru. Berdasarkan laporan terbaru State of the Global Islamic Economy, belanja konsumen Muslim pada enam sektor utama yaitu Makanan Halal, Farmasi dan Kosmetik Halal, Pakaian Modis, Pariwisata Muslim, serta Media dan Rekreasi, mencapai USD 2,60 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,56 triliun pada 2029. Pakaian Modis sendiri mencatat belanja konsumen Muslim sebesar USD 347 miliar pada 2024 dan diproyeksikan mencapai USD 444 miliar pada 2029.

Momentum investasi juga terus menguat. Pada 2024/25, investasi terkait ekonomi Islam mencapai sekitar USD 13,11 miliar melalui 346 transaksi. Keuangan syariah menyerap porsi investasi terbesar, diikuti oleh makanan halal, media dan rekreasi, serta perjalanan ramah Muslim.
“Bagi Filipina, perkembangan ini menjadi peluang yang tepat untuk mengeksplorasi ekosistem halal secara lebih luas. Halal tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pasar khusus, tetapi sebagai platform yang dapat membuka peluang perdagangan, investasi, kewirausahaan, inovasi, dan pembangunan ekonomi yang inklusif,” ujar Murniati.
Dalam pemaparannya mengenai perkembangan ekonomi halal global, Murniati juga mencatat bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga dunia dalam hal total nilai transaksi. Ia memberikan satu pengamatan penting mengenai arah aliran modal dalam ekonomi syariah: “Uang mengalir ke tulang punggung ekonomi Islam, bukan sekadar ke permukaannya.”
Sumber: Humas Sakinah Finance
\

