BOGOR, 16 Juni 2026 – Dalam upaya memperkuat dan mengembangkan standar pendidikan keuangan syariah di kawasan Asia Tenggara, sejumlah perguruan tinggi terkemuka berkolaborasi menyelenggarakan “International Workshop on Teaching Wealth Management from Islamic Perspective: Insights from Southeast Asian Universities“. Acara berskala internasional ini diselenggarakan selama dua hari, yakni pada tanggal 15 dan 16 Juni 2026 di ruang konferensi Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor yang sekaligus bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara ini.
Workshop ini merupakan wujud nyata kolaborasi lintas negara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, yang melibatkan berbagai Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi di bidang Manajemen Harta secara Syariah (Islamic Wealth Management). Di antaranya Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, IPB University, International Islamic University Malaysia (IIUM), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Universiti Sains Malaysia (USM), dan University College of Bahrain (UCB). Acara ini juga didukung oleh universitas-universitas dalam negeri seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Institut Agama Islam SEBI, Universitas Islam Bandung (UNISBA), Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Institut Keuangan-Perbankan dan Informatika Perbanas (Perbanas Institute), Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), serta Universitas Islam Tazkia, lembaga industri edukasi seperti Sakinah Finance, dan asosiasi terkait seperti Islamic Financial Planners Association (IFPA).
Hari pertama workshop menghadirkan pemaparan dari pakar terkemuka. Sesi Keynote Address diisi oleh Fuadah Binti Johari dari USIM yang membahas fondasi kekayaan dalam Islam—mulai dari cara mendapatkannya, distribusi, dan purifikasi harta—serta menyoroti perlunya metode pembelajaran berbasis studi kasus dan simulasi untuk mengatasi kesenjangan antara teori fikih klasik dengan dinamika ekonomi digital saat ini. Kemudian Nor Azizan Binti Che Embi dari IIUM membahas pembelajaran berbasis pengalaman dari kelas ke masyarakat, serta Hendri Tanjung dari UIKA Bogor mengenai Manajemen Harta secara Islami dan paradigma Maqasid al-Shariah. Selanjutnya, pada Sesi 1 bertopik “Industry Integration, Sustainability, and Future Directions“, turut hadir para pembicara utama di antaranya: Kaleon Leong pimpinan Federation of Investment Managers Malaysia (FIMM), Murniati Mukhlisin Guru Besar Universitas Tazkia sekaligus pimpinan Sakinah Finance, dan Irfan Syauqi Beik, Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

“Workshop ini sangat tepat untuk menjawab pentingnya kesenjangan antara teori yang diajarkan di dunia akademis dengan ekspektasi keterampilan yang dibutuhkan industri saat ini. Industri tidak hanya membutuhkan pemahaman teori keuangan, tetapi juga keahlian praktis seperti perencanaan keuangan, literasi digital, penilaian etis. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan inovasi seperti penerapan kerangka literasi keuangan berbasis siklus hidup (Life-Cycle Financial Literacy Framework) yang mencakup tahapan dari penciptaan harta (Wealth Generation) hingga distribusinya (Wealth Distribution)” ujar Murniati.

Memasuki hari kedua pada 16 Juni 2026, penyelenggaraan acara ini mencetak pencapaian bersejarah dengan dilaksanakannya penandatanganan “Letter of Intent on International Network of Islamic Wealth Management Education (IN-IWME)“. Komitmen kerja sama ini ditandatangani oleh 16 perwakilan dari perguruan tinggi, industri, dan asosiasi, yaitu UIKA, IPB, IIUM, USIM, USM, UCB, UNJ, SEBI, UNISBA, UHAMKA, UMJ, Perbanas Institute, UAI, Universitas Islam Tazkia, Sakinah Finance, dan Islamic Financial Planners Association (IFPA). Melalui pendirian IN-IWME, institusi-institusi tersebut menyepakati tujuan utama untuk menciptakan inisiatif akademik jangka panjang berskala internasional guna memajukan pengajaran, penelitian, capacity building, dan penyebaran pengetahuan di bidang manajemen harta syariah, zakat, wakaf, serta keuangan sosial Islam, baik pada lingkup nasional maupun internasional.
Hari kedua workshop juga memfokuskan diskusi pada pedagogi inovatif dan transformasi digital. Berdasarkan paparan para pakar internasional, rekomendasi strategis yang dihasilkan sangat relevan untuk diaplikasikan dalam memperkuat ekosistem dan pendidikan keuangan syariah di Indonesia, di antaranya:
• Mitigasi “harta beku” melalui AI dan gamifikasi: Indonesia menghadapi tantangan serupa terkait penumpukan aset wakaf dan harta waris yang dibekukan. Adopsi inovasi seperti sistem e-Faraid dan metode pembelajaran Global Faraid Game dapat dimanfaatkan oleh para perencana keuangan dan akademisi untuk menyederhanakan edukasi waris di masyarakat, meminimalkan sengketa, dan mempercepat proses distribusi aset.
• Modul interaktif untuk menangkal darurat utang remaja: Merespons tingginya kasus kebangkrutan pemuda akibat pinjaman online (pinjol) dan paylater, pendekatan praktis berbasis board game dan studi kasus infografis sangat relevan untuk diadaptasi ke dalam modul literasi keuangan digital bagi siswa sekolah menengah. Metode ini tidak hanya efektif untuk menekan perilaku belanja impulsif melalui pendekatan neurosains dan etika, tetapi juga berpotensi besar untuk diintegrasikan ke dalam inisiatif program inklusi keuangan bersama perbankan syariah di tingkat daerah.
• Mencetak SDM keuangan syariah siap industri: Perguruan tinggi berbasis pendidikan Islam di Indonesia perlu memperbarui kurikulum agar tidak sekadar berfokus pada teori. Penggunaan simulator investasi saham (FinTech) dan pelatihan prompt engineering sangat krusial untuk melatih mahasiswa menjadi “kolaborator AI yang aktif”. Langkah ini akan mempersiapkan lulusan lokal untuk mengisi kebutuhan tenaga ahli dan penasihat kekayaan (wealth advisor) bagi segmen High-Net-Worth (HNW) dan Family Office yang pasarnya terus bertumbuh.
• Kolaborasi lintas institusi yang berkelanjutan: Implementasi “LoI” IN-IWME membuka jalan bagi kampus-kampus di Indonesia untuk melakukan standardisasi kualitas pendidikan. Pertukaran basis data, riset bersama, serta penyelarasan kurikulum antara perguruan tinggi dengan asosiasi industri akan memastikan lulusan benar-benar memiliki keahlian perencanaan keuangan syariah berbasis siklus hidup yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Rangkaian acara workshop internasional dan pembentukan jejaring kolaborasi IN-IWME ini diharapkan menjadi landasan terciptanya ekosistem pendidikan manajemen harta syariah yang terintegrasi, komprehensif, dan responsif terhadap dinamika ekonomi global di masa mendatang.
Sumber: Humas Sakinah Finance


