“maa ‘aala man-iqtashada”
Dalam buku Ekonomi Rumah Tangga Muslim, terdapat satu hadits seperti diatas yang sangat berkesan bagi saya. Dalam buku karya Husain Syahatah tersebut, hadits diatas diterjemahkan dengan “tidak akan miskin orang yang hemat” – berkesan bukan karena maknanya tapi karena hemat disini dalam bahasa asli hadits tersebut berbunyi ‘iqtashada’. Mungkin kata tersebut sudah sering kita dengar, dalam versi lain yaitu iqtishad. Iqtishad adalah istilah yang lazim diterjemahkan sebagai ekonomi dalam konteks modern. Jadi iqtashada disini bisa juga diterjemahkan sebagai orang yang menggunakan prinsip moderat atau pertengahan dalam berekonomi dan juga pandai mengelola (harta).
Jadi makna hadits ini sendiri menjadi sangat dalam ketika kita membacanya. Rasul S.A.W jelas, dengan sabda beliau ini, memberikan tips kepada ummat Islam untuk pandai-pandai mengelola keuangan dan harta agar terhindar dari jatuh ‘miskin’. Kembali disini kata yang dipilih adalah ‘aa-la, yang secara bebas berarti kekurangan.
Hadits yang singkat dan simple ini memberikan nasihat yang barangkali sudah ribuan kali kita dengar dari orang-orang tua kita, dan sudah ribuan kali pula kita sampaikan ke anak-anak kita. Namun ternyata nasihat ini sangat sulit dilaksanakan. Hemat atau sederhana dalam berkonsumsi, berbelanja, bertransaksi adalah kata yang mudah diucap namun hampir mustahil untuk dipraktikkan. Easier said than done.
Namun saya percaya bahwa semakin sering kita dengar nasihat sederhana ini akan semakin masuk ke alam bawah sadar kita. Harapannya, nasihat ini akan muncul pada saat-saat yang dibutuhkan nantinya, dan syukur-syukur muncul pada saat yang tepat dan bukan setelah semuanya menjadi terlambat. 🙂 ***



