Silaturrahim Montreal–Sentul: Dari Muktamar NU hingga ke Alhasani dan Sakinah Finance

SENTUL, 28 Agustus 2026 — Suasana hangat mewarnai kegiatan Jum’at Berkah dan silaturahmi Komunitas Alhasani di Kampus Triple A (Akademi Al-Qur’an Alhasani), Sentul, Jumat (28/8).

Kegiatan ini dihadiri Sigit Afrianto dan Rosida dari Montreal, Kanada, yang berada di Indonesia dalam rangka Muktamar NU di Jombang serta kunjungan keluarga dan kolega.

Sigit merupakan Wakil Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat-Kanada (PCINU AS-K) dan salah satu dari empat utusan PCINU AS-K pada Muktamar NU di Jombang. Kehadiran Sigit dan Rosida sekaligus mempererat hubungan diaspora Indonesia dengan komunitas Alhasani di tanah air.

Turut hadir Guru Besar Universitas Islam Tazkia sekaligus Pendiri Sakinah Finance, Murniati Mukhlisin, bersama Dila Pujanah dari Sakinah Finance, serta jajaran pengurus Triple A dan pendamping Grup Alhasani Montreal.

Dalam pertemuan tersebut, Murniati berbagi pandangan mengenai pentingnya pengelolaan keuangan keluarga secara terbuka dan tertib. Menurutnya, pencatatan harta, termasuk pembedaan antara harta pribadi, harta bersama, dan harta yang memiliki hak pihak lain, penting untuk menjaga kejelasan dan menghindari potensi sengketa.

“Dalam rumah tangga, penting untuk mengetahui dan mencatat harta yang dimiliki. Hal ini bukan untuk menciptakan jarak, tetapi untuk menjaga kejelasan, keadilan, dan menghindari potensi sengketa di kemudian hari,” ujar Murniati.

Belajar Al-Qur’an dari Montreal
Sigit dan Rosida turut berbagi pengalaman belajar Al-Qur’an melalui Metode Alhasani. Sigit menilai pendekatan tersebut memudahkan masyarakat awam memahami tata bahasa Arab dengan istilah yang sederhana.

“Belajar dengan Metode Alhasani sangat membantu karena menggunakan istilah yang lebih mudah dipahami. Bagi orang awam, pendekatan ini sangat membumi dan memudahkan,” ungkapnya.

Rosida juga menyampaikan bahwa pembelajaran nahwu dan sharaf yang sebelumnya terasa sulit menjadi lebih mudah. Bahkan, pembelajaran Al-Qur’an menjadi ruang kebersamaan dalam keluarganya.

“Dulu di kampus tidak pernah satu kelas. Sekarang, kami bisa belajar bersama dalam satu kelas,” ujarnya.

Dari Akuntan ke Pembelajaran Al-Qur’an
Buya Rizal Alhasani menceritakan perjalanan lahirnya Metode Alhasani. Berbekal latar belakang sebagai akuntan, ia kemudian memilih mendalami Al-Qur’an dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih mudah, sistematis, dan dapat diterima berbagai kalangan.

Menurut Buya Rizal, banyak orang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi belum tentu memahami kandungannya. Dari kegelisahan tersebut lahir doa agar pemahaman Al-Qur’an yang diperolehnya dapat dimudahkan untuk disampaikan kepada masyarakat.

Metode Alhasani kini berkembang menjadi komunitas dengan sekitar 3.000 peserta dan lebih dari 300 peserta aktif. Pembelajarannya telah menjangkau berbagai negara, antara lain Kanada, Prancis, Australia, dan Malaysia, serta diikuti akademisi, profesional hingga sekitar 10 profesor.

Selain pembelajaran Al-Qur’an dan tahsin, Alhasani juga menjalankan Program Alhasani Peduli (PAP) untuk membantu kebutuhan pendidikan, keluarga kurang mampu, dan kegiatan dakwah.

Pertemuan di Sentul tersebut menjadi jembatan silaturahmi antara komunitas Alhasani di Indonesia dan diaspora Indonesia di Montreal. Dari Muktamar NU hingga pembelajaran Al-Qur’an, pertemuan ini menegaskan bahwa persaudaraan, pendidikan, dan kepedulian dapat terus terhubung lintas negara.

Sejalan dengan slogan Alhasani, “Ada pertemuan, tidak ada perpisahan.” Dengan semangat “Tiada Henti Menggapai Naungan Ilahi”, Alhasani terus membuka ruang belajar, mempererat silaturahmi, dan menebarkan kebermanfaatan.

Sumber: Humas Sakinah Finance

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat with us on WhatsApp
Scroll to Top