Wakaf untuk Co-Working Space?

Oleh: Ratna Komalasari, Peneliti Sakinah Finance

Kamu mungkin memiliki gaya yang berbeda-beda kalau sudah perkara belajar atau bekerja. Ada yang senang dalam keramaian, di kamar atau di kafe. Hal yang memberatkan adalah ketika mengerjakan tugas di kafe-kafe yang tentunya tidak gratis. Selain itu, tidak jarang suasana kafe yang kondusif untuk mengobrol membuat kamu lupa bahwa tujuan kamu pergi ke kafe adalah untuk mengerjakan tugas.

Pastinya kamu pernah mendengar tentang co-working space. Hadirnya co-working space ini cukup membantu banyak orang untuk lebih produktif. Tapi sebenarnya apa sih Co-working space? Co-working space adalah sebuah tempat di mana kamu bisa melakukan aktifitas-aktifitas seperti bekerja atau belajar.

Biasanya co-working space disediakan dengan sistem langganan atau ada beberapa juga yang disediakan secara gratis. Fasilitas standar yang disediakan oleh co-working space biasanya terdiri dari ruang meeting, meja dan kursi, AC, plug untuk men-charge gadget dan yang terpenting wifi. Selain itu, jam operasional co-working space ini bisa sangat panjang bahkan 24 jam sehari.

Masya Allah kalau menjelang ujian, co-working space bisa lebih banyak peminatnya dibandingkan perustakaan. Dengan fasilitas nyaman seperti itu, tentu dapat dibayangkan berapa banyak biaya bulanan yang harus dikeluarkan dan dari mana co-working space ini memperoleh pendapatannya?

Biasanya co-working space terdiri dari dua bagian, yaitu bagian untuk co-working space dan kafe yang menyediakan makanan dan minuman yang membuat kamu tetap on selama dikejar deadline. Kafe ini yang bisanya dijadikan sumber penghasilan utama untuk menunjang co-working space tetap hidup dan menyediakan tempat yang nyaman untuk kamu belajar.

Permasalahan yang muncul adalah tingginya permintaan ini belum diimbangi dengan jumlah permintaan. Co-working space biasanya tersedia di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya.

Selain itu beberapa co-working space ditawarkan dengan harga langganan yang kurang ramah dikantong mahasiswa sebagai konsumen utama setelah para freelancer dan startup. Sekarang bisakah dibayangkan bagaimana skema co-working space ini jika dikolaborasikan dengan wakaf?

Dominasi Wakaf di Indonesia
Wakaf didefinisikan sebagai suatu metode untuk mendekatkan diri pada Allah. Bentuk wakaf yang paling umum adalah mewakafkan harta yang dimiliki untuk mengharapkan ridhanya Allah.

Dalam Islam terdapat tiga kisah yang menjadi landasan wakaf. Orang pertama yang mencontohkan wakaf adalah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, yang membeli sebidang tanah milik anak yatim yang kemudian dibangun masjid di atasnya.

Kedua adalah ketika Umar bin Khatab radhiallahu anhu mewakafkan tanah terbaiknya di Khaibar yang menghasilkan buah-buahan terbaik untuk diwakafkan dan menahan pokoknya. Ketiga adalah ketika sahabat Utsman Bin Affan radhiallahu anhu membeli sumur Yahudi kemudian berkembang menjadi kebun kurma dan sekarang terus berkembang menjadi bisnis properti dan bisnis-binsis lainnya di abad 21.

Contoh yang hadir pada zaman Rasulullah dan realita yang terjadi sekarang memiliki perbedaan yang relatif signifikan. Wakaf di Indonesia masih didominasi oleh hal-hal yang relatif kurang produktif seperti pemakaman dan masjid.

Tidak ada larangan untuk memilih jenis aset yang akan dijadikan aset wakaf, tetapi kenapa tidak untuk membuat wakaf ini manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak orang? Walaupun tidak dipungkiri wakaf produktif saat ini sudah sering dikampanyekan untuk dikembangkan tetapi faktanya beberapa aset wakaf produktif belum dapat dikelola dengan efisien.

Kembali ke co-working space, sekarang apakah bisa membangun co-working space di atas tanah wakaf? Jawabannya tentu bisa, contoh-contoh yang menjadi landasan untuk melaksanakan wakaf ini tidak membatasi wakaf pada jenis aset dan bisnis apa yang dikerjakan.

Pada era itu bisnis yang umum dilakukan adalah berkebun dan berdagang, sehingga hal yang dicontohkan adalah mewakafkan tanah untuk kebun yang ditahan pokoknya. Walaupun tidak dibatasi pada jenis bisnis tertentu tapi tetap harus bisnis yang halal ya.

Masalahnya jika membuat co-working space dengan fasilitas yang disediakan dari wifi, AC, maintenance akan sangat costly. Sehingga pertanyaan selanjutnya, bagaimana menjaga agar co-working space ini tetap sustain dan tetap memberikan performa terbaiknya. Penulis mengambil contoh dari beberapa co-working space yang ada di dunia.

Co-working Space Multinational Company
Beberapa perusahaan seperti Google, e-bay atau perusahaan lainnya sudah membangun co-working space yang dijalankan secara professional dan gratis untuk siapa saja. Bukan gratis dalam artian gratis tempat dan fasilitas saja, tapi makanan yang disediakan co-working space yang dibangun memang disediakan secara gratis.

Tentu ini merupakan bagian dari CSR perusahaan sehingga tidak usah ditanya dari mana mereka bisa menjaga agar co-working tetap ada dan gratis.

Co-working Space + Kafe
Skema kedua adalah co-working space yang digabungkan dengan kafe. Ini merupakan skema yang umum ada di Indonesia. Sehingga pengelolaan bisnis yang professional dan maintenance co-working space dapat dilakukan dalam waktu bersamaan. Skema kedua ini juga akan membuat co-working space bisa tetap menopang dengan dukungan dari pendapatan kafe.

Co-working Space +
Bisnis yang digabungkan dengan co-working space ini tidak terbatas. Jadi bisa digabungkan dengan bisnis apa saja. Tetapi harus bisnis yang halal. Hal yang terpenting adalah fasilitas co-working space ini tetap bisa berjalan dengan baik dan pengelolaan yang professional.

Di mana Aku Bisa Wakaf untuk Co-working Space?
Sekarang pertanyaannya, dimana kamu bisa berwakaf untuk co-working space? Penulis sendiri belum menemukan ada kampanye untuk wakaf pembangunan co-working space ini. Tetapi jika kamu mengenal ada keluarga atau teman yang memiliki bangunan-bangunan kurang produktif khususnya di daerah perkotaan atau yang dekat dengan kampus-kampus kamu bisa coba menceritakan tentang skema ini. Siapa tahu mereka akan tertarik dan mengalihkan aset-aset tetap yang kurang produktif tadi untuk manfaat banyak orang.

Tentu saja sebagaimana syarat harta wakaf, tujuan penggunaanya harus sesuai syariah, co-working space yang dibangun nanti harus memisahkan tempat kumpul cewek dan cowok, patuh kepada hukum bermasyarakat, untuk kegiatan positif, ada sarana ibadah, dan ada pemeliharaan berkala.

Sekian opini dari penulis tentang wakaf co-working space ini. Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi dan membuat pandangan kamu tentang ekonomi Islam ini semakin meluas.

Bukan hanya perkara riba dan bank syariah saja yang harus kamu perhatikan tapi sudah merambah ke wakaf produktif. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

 

Admin AnwarWakaf untuk Co-Working Space?