Sakinah Finance Soroti Kunci Inklusi Keuangan Syariah di Seminar Nasional Kementerian Keuangan

Jakarta, 12 Maret 2026. Sakinah Finance menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pengembangan ekosistem keuangan syariah di Indonesia.

Hal ini disampaikan dalam Learning Series Seminar Nasional Kemenkeu 2026 bertema “Akselerasi Pengembangan Keuangan Syariah Nasional: Tantangan Indonesia Menjadi Islamic Financial Hub 2030.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kemenkeu Learning Festival yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan RI.
Seminar yang berlangsung di Gedung B Lt. 5 BPPK Jakarta ini dihadiri sejumlah 279 peserta secara daring dan luring.

Antusiasme peserta dari berbagai kanal tersebut menunjukkan tingginya minat publik terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Plt. Kepala BPPK Sudarto menegaskan bahwa keuangan syariah memiliki potensi besar dalam peta keuangan global dan tidak boleh dipersempit hanya pada aspek hukum.

_“Keuangan syariah sangat luas dan berkembang di berbagai negara. Bahkan pusat keuangan syariah global dapat berkembang di kota seperti London. Singapura dan Malaysia juga terus berupaya memperkuat posisinya. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam ekosistem ini,”_ ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusdiklat Keuangan Publik Ganti Lis Ariyadi dalam sambutannya menekankan pentingnya forum diskusi lintas sektor untuk memperkuat pemahaman dan kolaborasi dalam pengembangan ekonomi syariah nasional.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Euis Amalia, Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Rima Dwi Permatasari, Group Head Islamic Ecosystem Solution Bank Syariah Indonesia; serta Murniati Mukhlisin, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Islam Tazkia sekaligus Founder Sakinah Finance.

Diskusi dipandu oleh moderator Yodi Izharivan, Senior Research Fellow Bank Syariah Indonesia.
Dalam paparannya, Euis Amalia menjelaskan berbagai model pengembangan pembiayaan syariah di tingkat global, termasuk praktik mudharabah muqayyadah yang dapat memperkuat pembiayaan sektor riil. Ia juga menyoroti sejumlah tantangan dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

“Tantangan yang masih kita hadapi antara lain adanya ego sektoral antar kelembagaan serta kesenjangan kualitas sumber daya manusia. Penguatan kompetensi dan sertifikasi menjadi faktor penting untuk mempercepat perkembangan industri keuangan syariah,” jelas Euis.

Sementara itu, Murniati Mukhlisin memaparkan strategi penguatan inklusivitas keuangan syariah melalui model kolaborasi ekosistem ABG-MAC, yang melibatkan enam elemen penting yaitu Academic, Business, Government, Media, Agregator, dan Community.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan ekonomi syariah tidak dapat dicapai oleh satu sektor saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Ekosistem ekonomi syariah akan berkembang lebih cepat ketika akademisi, industri, pemerintah, media, komunitas, dan berbagai platform agregator bergerak bersama. Kolaborasi ini akan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah,” ungkap Murniati.

Ia juga menjelaskan bahwa inklusivitas keuangan syariah berkaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang diukur melalui prinsip Maqasid Syariah, seperti menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, yang juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs (Sustainable Development Goals).

“Inklusivitas keuangan syariah bukan hanya soal akses terhadap produk keuangan, tetapi bagaimana sistem tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara holistik sesuai dengan prinsip Maqasid Syariah” tambahnya.

Dalam sesi berikutnya, Rima Dwi Permatasari menekankan pentingnya penguatan teknologi dan keamanan sistem digital dalam mendukung perkembangan layanan perbankan syariah.

“Seiring meningkatnya layanan keuangan digital, penguatan IT security menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah,” ujar Rima.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, yang menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap penguatan ekosistem keuangan syariah nasional.

Melalui forum ini, para narasumber dan peserta sepakat bahwa penguatan kolaborasi lintas sektor, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem digital menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengembangan keuangan syariah nasional menuju visi Indonesia sebagai Islamic Financial Hub 2030.

Sumber:
Humas Sakinah Finance

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat with us on WhatsApp
Scroll to Top