3 Temuan Mengejutkan dari Isi Buku The Millionaire Next Door

Saat pertama kali diterbitkan, buku ini langsung menjadi global best seller. Judul bukunya, The Millionaire Next Door: The Surprising Secrets of America’s Wealthy.
Isi buku ini menarik karena berbasis riset empirik tentang profil para milioner. Jadi isinya berdasar data yang valid, bukan hanya konsep belaka.
Mari coba kita isi bedah buku keren ini.
Salah satu temuan surprising dari buku ini adalah : ternyata mayoritas milioner di Amerika itu gaya hidupnya bersahaja dan sederhana.
Penulisnya mengisahkan saat melakukan riset, dia mengundang para responden milioner itu untuk datang wawancara ke hotel yang mewah.
Penulisnya lalu memberikan hidangan yang megah karena mengira para respondennya ini orang kaya yang tajir yang terbiasa dengan gaya hidup yang mewah.
Namun apa yang terjadi? Para responden itu malah merasa kikuk untuk masuk ke hotel yang begitu megah. Mereka juga kagok saat mau makan. Sebab hidangan makanan di hotel itu terlalu mewah bagi mereka. Mereka tak terbiasa makan semewah itu.
Peneliti dan penulis buku itu lalu minta maaf, dan mengaku kalau prasangka mereka tentang milioner itu pasti mewah adalah keliru.
Para milioner itu ternyata rata-rata orang yang humble, para pemilik usaha skala kecil dan menengah di Amerika, yang gaya hidupnya frugal (bersahaja).
Mayoritas milioner di Amerika adalah tipikal ordinary people, seperti kebanyakan orang biasa. Sama sekali tak kelihatan sebagai milioner.
Maka buku itu diberi judul the Millionaire Next Door. Para milioner orang biasa yang mirip tetangga sebelah rumah Anda.
Jadi salah kaprah, kalau mengira para milioner itu serba mewah.
Mereka sama sekali bukan seperti Generasi Instragrammer yang SNOB (sok kaya padahal gaji pas-pasan).
Mereka sama sekali bukan seperti sosialita Jakarta yang serba mahal gadgetnya, dengan baju atau tas yang serba branded.
Mayoritas atau hampir semua profil milioner yang diteliti dalam buku itu adalah sosok yang bersahaja : para pekerja keras yang membangun usahanya sejak kecil (mayoritas mendirikan usaha sendiri, dan bukan warisan dari orang tuanya).
Mereka pelan-pelan membangun usahanya dengan tekun dan dari nol. Saat usahanya makin besar dan profitnya makin banyak, mereka tidak royal membelanjakan uanganya. Sama sekali tidak.
Gaya hidup mereka tidak berubah, sama seperti saat mereka merintis usahanya dulu.
Gaya hidup mereka tetap sederhana, dan hemat dalam menggunakan income-nya yang sudah melimpah.
Profil para milioner dalam buku itu seperti antitesa dari fenomena Hedonic Threadmill.
Fenomena Hedonic Threadmill adalah saat gaya hidup Anda terus meningkat sejalan dengan kenaikan income Anda. Gaji 5 juta, semua habis. Saat gaji sudah 30 juta, semua habis juga.
Kenapa selalu habis? Karena ada dorongan untuk memuaskan nafsu hedonic yang tak pernah usai. Makanya disebut hedonic threadmill. Gaya hidup dan nafsu konsumsi Anda tak pernah terpuaskan, ibarat lari di tempat.
Nah para milioner dalam buku ini tidak seperti kebanyakan orang yang hedonis dan SNOB.
Mereka tidak terjebak dengan perlombaan gaya hidup yang tak pernah selesai, demi terus mengejar kesenangan hedonic tanpa ujung.
Menjadi MILIONER yang BERSAHAJA. Inilah jalan hidup yang mungkin layak kita kejar.
Itulah  *temuan Pertama*  mengejutkan dari buku the Millionaire Next Door.
Temuan kedua:
Usia mereka rata2 di umur 57 tahun. Jadi kalo sekarang masih Kismin di usia 40 tahun, masih ada 17 tahun lagi buat ngejar 😁
Temuan ketiga:
70% dari mereka adalah SMALL ENTERPRENEUR. Punya bisnis kecil yg punya bbrp cabang saja. Bukan banyak cabang atau cabang besar.
Chat with us on WhatsApp
Scroll to Top